SEMUA PUNYA MUSIK
Jumat, 30 Desember 2011 21:30:00 WIB
SEMUA PUNYA MUSIK
Joko Santoso dan musik gergaji. Rusaknya hutan di kampung halamannya membuat Joko gusar dan marah. Tangan-tangan jahil telah membuat alam seakan tak ramah lagi kepada manusia. Hal itulah yang membuat Joko melakukan protes dengan caranya sendiri, yaitu dengan bermusik. Suara gergaji penebangan pohon di hutan-hutan di Bojonegoro yang sering didengarnya selama bertahun-tahun telah memberinya inspirasi. Joko pun bereksplorasi menggunakan gergaji sebagai sebuah instrumen musik yang dapat menghasilkan bunyi.
Ahmad Thian Fultan, Andzar Agung Fauzan, dan Tedi Nurmanto - adalah sekelompok anak muda asal Jatiwangi yang berangkat dari komunitas bernama Jatiwangi Art Factory (Jaf) yang didirikan di Desa Jatisura, Jatiwangi, Cirebon, pada 27 September 2005. Jaf sendiri merupakan organisasi nirlaba yang fokus terhadap kajian kehidupan lokal pedesaan lewat kegiatan seni dan budaya seperti festival, pertunjukan, senirupa, musik, video, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan. Sejak 2008 Jaf bekerjasama dengan Pemerintah Desa Jatisura melakukan riset dan penelitian berkolaborasi dengan kesenian kontemporer. Mereka yang tergabung dalam grup yang mereka namai Good Manner ini adalah salah satu grup musik bentukan dari komunitas Jaf. Good Manner dalam bermusik menggunakan instrumen musik yang berasal dari gerabah/keramik dan juga genteng. Mereka sudah tampil dibeberapa acara musik besar seperti Java Jazz, Sculpture Square Singapore, dll. Semangat yang diusung dari setiap penampilan grup musik ini adalah ingin menjadikan gerabah/keramik dan genteng sebagai kesenian tradisional Jatiwangi.
Iwan Lonceng adalah penggila scooter. Hobinya berbuah kreatifitas unik yang luar biasa. Ia mengubah barang rongsokan onderdil scooter menjadi alat musik. Ide untuk membuat beberapa alat musik dari rongsokan scooter ber-merk dagang vespa itu didapat Iwan Lonceng ketika ia melihat salah seorang temannya bernama Abah Richard—salah satu anggota Black Scooter, club vespa di kota Bandung—akan menjual rongsokan vespa yang tidak terpakai ke tukang loak. Alat musik pertama yang diciptakan oleh Iwan Lonceng dari rongsokan vespa adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul, yaitu perkusi. Perkusi pertamanya ini dibuat dari body vespa. Dalam waktu setahun- kini Iwan Lonceng sudah membuat 23 jenis alat musik, mulai dari alat musik tiup, gesek, pukul, petik, dan lain sebagainya. Semuanya berasal dari keran bensin, tanki bensin, selahan/pijakan starter vespa, karburator, velg dan ban dalam, hingga knalpot. Menggunakan alat musik buatan tangannya itu, Iwan Lonceng dan beberapa temannya sudah melakukan pertunjukan. Misinya adalah mengusung alat musiknya hingga ke negeri asal scooter vespa ini dilahirkan.
0 komentar:
Posting Komentar